(Akhirnya) Liburan ke Pulau Tidung

Yeaayyy akhirnya berhasil menginjakkan kaki di salah satu pulau di kepulauan seribu… hihihi biarin lebay dikit πŸ˜€

Jadi ceritanya selama ini keinginan saya untuk jalan2 ke kepulauan seribu gak pernah kesampaian. Padahal kan dekat banget sama kita, wong masih satu provinsi. Nah dalam rangka ultah hubby, staff2nya punya ide untuk minta traktir dalam bentuk jalan2 ke pulau Tidung instead of makan2. Iyee dari segi anggaran gak sebanding banget kan?? tapi gak pa2 sih… ini bisa dimasukkan sebagai biaya outing kantor, jadi gak keluar dari kantong pribadi #modus. Tentu saja saya semangat 45, terserah deh mau ke pulau apa, yang penting pulau seribu hihihi walaupun banyak teman yang bilang “ke Pari atau Harapan aja, karena Tidung udah terlalu rame dan kotor”. Well, saya pikir sekotor-kotornya pasti masih lebih ok dari pantai ancol lah yaaa, jadi gak pa2, tinggal turunkan saja ekspektasinya, pasti tetap enjoyable (gak apple to apple bandingannya :D).

Atur2 jadwal, diputuskan berangkat tanggal 14-15 November. Karena ada yang sudah 2x ke Tidung, jadi suami istri itu kita daulat jadi ketua panitia, gak perlu jasa tour deh jadinya… biar irit hehehe. Mendekati hari H, biasalaaah hubby yang gak pengalaman jalan ala2 petualang rada jiper pas saya ceritain kondisi terburuk selama perjalanan, kalo kita bakal naik kapal kayu 2-3 jam, umplek2an, gegoleran di lantai, siap2 mabok laut kalo lagi ombak besar endebra2. Abisnya hubby kalo urusan begini gak pernah mau browsing sendiri sih, beda sama istrinya yang kalo pengen ke suatu tempat, meskipun itu cuma ke taman kota, bakalan googling dari a-z hahaha. Hubby akhirnya usul, kita berenam (plus satu keluarga yang membawa anak kecil) naik speedboat aja dari Marina Ancol. Sebagai istri yang baik #pencitraan, jadilah saya browsing2 lanjut telp untuk tanya harga, ternyata tiket pp 300rb per orang, anak kecil mulai 2 tahun sudah dihitung 1 tiket. Lumayan juga ya, untuk tiket speedboat berenam aja udah 1,8 jeti. Jadi, demi kebersamaan dan penghematan, saya meyakinkan hubby bahwa lebih asik kalo semua naik ferry aja dari muara angke :D.

Jadilah sabtu pagi jam 6 kita berangkat dengan 2 mobil ke pelabuhan Kali Adem, Muara Angke. Sebenarnya ini agak kesiangan, lebih baik usahakan jam 6 sudah di pelabuhan ya. Kemarin kita rada santai karena tiket sudah dibeli oleh “tour guide” yang udah duluan nyampe karena naik motor. Macet dan beceknya muara angke mendekati pelabuhan gak usahlah ya diceritain. Ada parkiran resmi jam2an persis di sebelahΒ  pelabuhan, tempatnya cuma berupa lapangan terbuka berbatu batu dan tanah becek kalo ujan, kemarin lupa ambil fotonya.

Setelah grup kita ngumpul, kita diantar oleh seorang mas2 ke kapal. Kalo gak diantar mungkin akan sedikit bingung, kapalnya banyak berderet-deret, tapi masing2 kapal ada namanya kok. Oh iya, harga tiket kapal dari Muara Angke ke P Tidung adalah 47rb plus retribusi 2rb. Walaupun saat mau melewati pintu masuk pelabuhan tiket sudah diperiksa dan ditandai, jangan dibuang ya karena nanti di dalam kapal, tiketnya akan di tarik lagi oleh petugas.

1a
deretan kapal ferry, islani express adalah kapal yang kami tumpangi

Kapal terdiri dari dua tingkat. Untuk keberangkatan kami memilih deck bawah. Masih sekitar 30 menit kami menunggu sebelum kapal akhirnya berangkat. Karena panas dan pengap, oliv sedikit gak betah. Untung saja pas kapal jalan, suasana agak mendingan dan si bocah tertidur, lumayan sekitar 1 jam-an. Tapi pegalnya gak nahan deh, gendongin bocah tidur dengan kondisi kursi keras dan kotak begitu, masih lebih ok kursi metromini yang tanpa lengan. Setelah bangun, jalan2 lah dia ditemani sama papinya ke atas, liat laut. Puji Tuhan nya gak ada yang mabuk laut, mungkin karena cuacanya sedang baik.

3
suasana kapal di tingkat bawah; agak pengap, bau bahan bakar, cat kursinya luntur -__-

Setelah 2,5 jam kapal berlayar #cihuyy, terlihatlah jembatan cinta dari kejauhan, hingga akhirnya merapatlah kita di dermaga Pulau Tidung. Belum turun kapal saja udah banyak yang bilang wow bagus bangettt (karena air lautnya yang kehijau2an, di jakarta kan ini pemandangan yang mustahil *padahal ini masih jakarta* hehehe) Lagi2 tidak sempat ambil foto dermaga, rempong karena gendong bocah, dan sedikit crowded saat turun kapal karena ternyata kita satu kapal dengan jenazah. Kita dijemput oleh pemilik homestay, dan diantar ke homestay dengan jalan kaki sekitar 400 meter. Jenazah tadi disholatkan di mushala dekat homestay kita, dan ini jadi berkat buat saya, ceritanya nanti ya πŸ˜€

4
tersebar banyak toko oleh2, penyewaan sepeda, dan penyewaan alat snorkling
5
map yang ada di dekat dermaga

7

Kita sewa 2 rumah yang 2 kamar (400rb/rumah) plus 1 rumah 3 kamar (500rb), keluarga kami dan 1 keluarga lagi yang punya bocah di rumah ini. Terdiri dari 2 kamar ber AC, di ruang tamu juga disediakan kasur. Jadi 1 rumah sebenarnya cukup untuk 6-8 orang. Ada kipas angin di masing2 kamar dan ruang tamu, ada dispenser dan TV. 1 kamar mandi, tidak ada dapur.

6c
hari itu Tidung diserbu oleh ranger merah dari Ace hardware dalam rangka peringatan hut 20th. Sampai2 bikin panggung dekat jembatan cinta.

Setelah pembagian rumah, kita ngumpul di homestay saya untuk makan siang. Masakan yang sudah dibawa dari Jakarta, dan dimasak oleh tantenya sang panitia. Makannya pada lahap karena udah lapar, padahal baru jam 11 lewat, pasti pada gak sarapan deh. Lesehan rame2 dengan menu ayam balado, telur balado, dan capcay, ada juga ayam kecap untuk anak2. Rasanya enak sekali (thank you tante).

Setelah makan siang dan beristirahat sebentar, akhirnya jam 1 kita jalan ke Jembatan cinta. Tadinya kita mau ke sana sekitar jam 3, tapi kan rugi ya waktunya secara di homestay gak ada yang menarik. Ternyata kalo dari homestay ke jembatan cinta itu sekitar 1.5 km, lumayan gempor kalo jalan kaki, ditambah lagi panas terik. Akhirnya cari sewaan sepeda, dimana sepeda yang ada tinggal sisa2nya, mungkin habis diborong oleh Ace. Untung grup kita masih kebagian semua. Harga sewa 15rb untuk yang single, yang ada boncengannya 20rb, boleh dipakai sampai keesokannya. Untuk kembaliin, boleh ditinggal di homestay atau boleh juga dibawa ke dermaga. Easy peasy banget ya, padahal tempat penyewaan sepeda ini banyak lho, gak takut tertukar, gak takut hilang πŸ˜€

Tapi, yang saya kurang suka dari Pulau Tidung selain makanannya adalaaaah sepeda! karena akik gak bisa naik sepeda huhuhu. Sebelumnya sudah tanya sama hubby, yakin bisa boncengin anak sama istrinya yang seksi ini? (baca : ndut ) jawabnya bisaaa tapi pas prakteknya itu sepeda gak maju2 hahaha. Akhirnya anak dan istrinya dibonceng sama si tante yang jago masak itu deh. Double hiks, masa hubby kalah sama si tante sih -__- (ada dua pr besar nih, hubby kudu workout lebih serius biar kuat, saya perlu diet ketat dan workout juga biar entengan *cry*)

Sampai di gerbang jembatan cinta, lautan sepeda memenuhi parkiran, warbiyasak deh pokoknya. Sampai kita bingung, gimana caranya nanti ngenalin sepeda kita.

Setelah parkir, kita menjauh sedikit dari jembatan, cari spot yang lebih sepi karena disitu lagi berjubel para ranger merah. Dan inilah pemandangan yang membuat oliv langsung pengen nyemplung dibawah terik matahari. Lautnya bersih, pasir putihnya bersih hanya ada dedaunan yang gugur, airnya bergradasi, pokoknya keren dan melebihi ekspektasi saya *yang sudah diturunkan*.

8c
ada emak2 teriak2 ke anaknya yang anti narsis “oliv… oliv… photo dulu… liat sini…” dan hasilnya teteeep serasa candid -_-

 

IMG_20151114_141112
karena takut hitam #becanda, kita berendam ala kuda nil dibawah pohon, sambil menemani anak2 main pasir. Tapi cewek2 dan cowok2 muda (gak kepoto) tidak lama kemudian berenang sambil cari kerang and tentunya poto2. Sampai jauh dari bibir pantai, airnya masih sepinggang. Kalo liat di foto oliv peace diatas, lewat jauh dari batas air yang biru tua itu, mendekati kapal2 yang terlihat seperti semut

IMG-20151114-05804

 

via3
tidak perlu kuatir si bocah jalan sendiri ke tengah, karena tidak ada ombaknya. Jalan2 ok, duduk ok, jongkok sambil liatin orang watersport ok juga :D. Abis itu minta main banana boat, ya tentu saja gak bolehlah ndukkk, tunggu nanti gedean yaaa
10
btw ini airnya hangat loh, serasa punya kolam air hangat raksasa
us1
mau punya family pic yang agak bagus kok susahnyaaa minta ampun, ini si bocah lagi minum kelapa muda, diminta taruh sebentar aja gak mau hiks. mungkin dipikirannya foto adalah prioritas ke 100 dalam hidup πŸ˜€

us2

IMG-20151114-05830

Udah hampir jam 4, kita sudahi main airnya. Bilas dulu di tempat bilas, bayar 2000. Setelah itu, nongkrong di pinggir pantai untuk makan bakso. 1 porsi bakso harganya 27 ribu, terdiri dari beberapa butir bakso yang suer gak enak, dicemplung dalam 1 bungkus mie instan yang dimasak lengkap dengan bumbunya 😦 untung cuma pesan 1 porsi, oliv gak suka.

13

Tadinya kita mau ke saung cemara kasih untuk melihat sunset. Tapi liat di peta, kok gak ada saung cemara kasih yang katanya di Pantai Barat ya. Karena anak2 udah pada mencar, saya putuskan pulang dulu ke homestay dengan naik bentor “becak motor”. Nah, karena di Tidung ini tidak ada nama jalan, kita lupa hapalin no rt/rw homestay kita. Suruh nunjukkin jalan, eyke ya gak hafal lah, bilang penginapan pak Mubarok, abangnya gak tau, bilang dekat mushola, katanya disini mushola dan mesjid banyak. nah loh… akhirnya bilang mushola yang tadi ada sholat jenazah… baru deh abangnya ooooooh iya tau. Puji Tuhaaaan. Ini maksud saya diatas, kalo sholat jenazah di dekat homestay kita membawa berkat, karena selama di tidung saya naik bentor 4x, petunjuknya cukup menyebutkan ini. Ongkosnya 20rb, ditawar 15rb gak dikasih, katanya sudah pasaran. Ok aja deh, hubby mengikuti dari belakang dengan sepeda. 1 bentor ini bisa untuk 3 orang dewasa ya, 2 depan, dan 1 bisa bonceng abangnya.

Saya sempat tanya sama abangnya, saung cemara kasih itu dimana? katanya jauh diujung (yaiyalah bang…). Trus saya nanya lagi, kalo ongkos bentor kesana berapa? 50rb… bokkk katanya hampir 30 menit dari jembatan cinta. masa iya sih? akhirnya gak jadi deh sunset an di saung cemara kasih.

15a
foto menjelang sunset, asal jepret dari atas bentor karena silau. Kalo lagi naik sepeda pasti saya berhenti disini untuk sekedar bermain ayunan sambil menunggu sunset

 

15b
siap siap menjelang sunset
14
Suasana jalan dari/ke jembatan cinta. Ternyata ada banyak penginapan sepanjang jalan ini, lain waktu kalo ke Tidung lagi, paling tidak saya harus menginap dekat sini. Ke jembatan cinta, water sport, pantai, tinggal jalan kaki. Di depan situ pantainya juga cukup asik buat santai2, seperti yang ada ayunannya tadi

Sampai penginapan oliv saya mandiin lagi, lalu main, ngobrol dan tidur2an aja. Sekitar 6.30 kita keluar untuk makan malam. Kali ini oliv maunya dibonceng papinya, dan saya dibonceng si tante. Sebenarnya takut juga kakinya masuk jeruji, tapi anaknya gak mau diikat kakinya, akhirnya cuma dipesan2 kakinya mesti ditaruh disini, gak boleh turun2. Resto seafood yang dituju ada di dekat jembatan cinta. Tadinya sudah berhenti di satu resto, tapi karena suasananya kurang ok, akhirnya kita pindah ke resto Jukung yang hanya sepelemparan batu dari resto pertama. Nah, waktu mau pindah itu saya yang ada di depan mendengar tangis Oliv, langsung saya samperin. Ternyataaa kakinya masuk jeruji hiks… padahal kata papinya belum digowes loh. Pas saya cek kakinya, sambil nangis dia terus2an ngomong gak pa2 tapi nangisnya lumayan heboh hehehe jadi pasti sakit deh. Ada sedikit lecet sekitar telapak kaki, dan bengkak merah kebiruan di tumit. Akhirnya saya urut dulu dengan vicks, karena adanya itu.

The show must go on. Jukung ini suasananya lumayan, ala2 jimbaran, makan diatas pasir di pinggir pantai. Kita pesan 2 kg ikan Ela (penasaran aja karna semuanya belum pernah makan ikan ela, katanya favorit di Tidung) 200rb per kilo, beberapa porsi cumi dengan saus yang berbeda dan beberapa porsi sayur. Yang saya kurang puas, ikannya kan mestinya ditimbang ya, tapi sama restonya langsung aja diputuskan 1 ekor yang ini 1 kilo, jadi 2 kilo hanya 2 ekor. Padahal menurut saya paling itu ikan 700-800 gram saja. Udah itu penyajiannya lama, karena hanya 2 orang yang mengerjakan semuanya. Mungkin karena kakinya sakit, oliv minta pulang. Akhirnya saya dan oliv pulang duluan dengan bentor. Sebelumnya saya bungkus dulu nasi dan secuil ela bakar, untuk makan di penginapan.

Sampai penginapan, oliv gak mau makan nasi. Jadi cuma makan roti. Rasa ikan elanya menurut saya biasa saja, masih prefer baronang or kakap ( harganya juga 200k di resto Jukung). Setelah bersih2, mari kita tidur. Oliv tidurnya dengan kaki disangga guling, sakit katanya. Tapi setelah lelap, gulingnya saya angkat biar gak pegal dan bisa tidur miring, baik2 aja keliatannya.

Minggu pagi, acara bebas sampai jam 9.30, karena jam 10 kita sudah harus ke dermaga. Jam 6 kurang, hubby saya sarankan untuk ke jembatan cinta, menikmati pagi dan saya titip fotoin sunrise :D.

16a
sunrise yang tertutup awan

 

16b
hello sunshine

Setelah hubby balik dan oliv bangun, mandi dan sarapan cup noodle (jangan ditiru :D), saya menelpon abang bentor yang semalam mengantar saya untuk menjemput, karena kita mau ke jembatan cinta lagi.

17
pose dulu diatas bentor, penginapan saya yang biru muda sebelah kiri. Tipikal jalan di Tidung adalah gang2 seperti ini.

 

18b
Jalan2 di sekitar sini doank, gak nyebrang ke Tidung kecil di ujung sana. Panas dan malas terburu-buru. Ah, saya envy dengan yang kesini waktu jembatannya masih dari kayu, lebih eksotis… serasa di Ora πŸ™‚

 

19
melihat orang2 yang terlempar saat water sport dan orang2 yang lompat dari jembatan. Kemarin kita mangkal di pantai di ujung sana, melewati kumpulan aneka water sport

 

20
sisi lain jembatan cinta

 

23
mana kakinya yang sakit? mana? mana? sudah lupa tuh… padahal pas mandi ngeluh sakit πŸ˜€

24

 

 

23b

21

via2
tujuannya cuma jalan2 jadi emaknya gak bawain baju ganti, tapiii mana deru ke pantai gak basah2an yak?

via1

22
peaceful morning with my loved ones
25
kayaknya enak ya tiduran sambil baca buku di hammock gitu. btw itu hammock bawa sendiri loh
26
Kalo rame2 bisa santai2 di gazebo2 kayak gini. Enaknya di Tidung, meskipun bibir pantai agak sempit tapi masih banyak pohon

Karena gak bawa baju ganti, saya iseng ke toko souvenir untuk beli baju oliv. Saya gak liat baju dewasa, tapi untuk anak2, baju setelan pantai ala baju barong bali, harga setelah tawar 35rb, padahal jahitan dan bahan kasar banget. Waktu di bali, beli baju model ini yang lebih halus sedikit itu cuma 14.500 gak pakai nawar loh. Gak jadi beli akhirnya, gak tega juga oliv pakai baju yang bau sablon banget tanpa dicuci. Gak pa2 lah basah2an sebentar.

Jam 9 kita pulang ke homestay, mandiiin oliv lagi, dan sarapan nasi uduk yang nasinya keras banget. Untung oliv mau makan beberapa suap. Hampir jam 10 baru kita berangkat ke dermaga. Tiket minta tolong dibeliin oleh pemilik homestay. Yang lain naik sepeda ke dermaga, saya jalan kaki sambil gendong oliv karena dia gak mau naik sepeda, mungkin masih trauma. Untung ke dermaga lumayan dekat… fiuh.

Tiket dari Tidung ke Muara Angke 40rb per orang. Perjalanan pulang ini kita semua sepakat untuk duduk di atas. Dan beginilah kondisinya. Yang cowok2 milih di belakang kapal yang hanya tertutup terpal, dapet angin kencang sih tapi juga dapat panas matahari yang lumayan menyengat.

27
Kondisi kapal di tingkat atas. Keliatan kayak suasana di pengungsian ya? hihihi tapi percaya deh its a way much better dibanding dibawah. Memang pas kapal belum jalan, panasnya kayak dioven, tapi pas kapal jalan, enak kok. Angin semilir, sedikit berayun, menunjang banget untuk tidur pulez setelah “capek” liburan

Oliv yang udah ngantuk dari sebelum masuk kapal, sukses tidur sejaman di gendongan emaknya. Gak tega mau ditaruh di lantai kapal. Emaknya juga bisa merem sambil duduk senderan. Banyak yang tidur dengan merebahkan diri. Dibawa asik aja.

28
setelah bangun tidur, menclok terus di jendela sambil liat laut biru
29
Hello Jakarta…

Lama perjalanan hampir sama, sekitar 2.5 jam sampailah kita di Muara Angke yang panas dan penuh manusia2 yang puas habis gosongin badan di kepulauan seribu.

Fiuhhh selesai juga akhirnya. Panjang banget ya… khas emak2 sih, segala detil diceritain πŸ˜€

Kesimpulan jalan2 kali ini : puas dan happy donk… dan membuat saya ingin mendatangi pulau2 lain di kepulauan seribu.

Sedikit saran dan tips ala2 saya:

  • Jangan lupa bawa sunblock dan topi
  • bagi yang belum bisa, belajar naik sepeda dulu ya πŸ˜€ becanda deh, bisa naik bentor kok, atau cari saja penginapan dekat pantai
  • Untuk makanan bisa pesan paket lengkap 3x makan ke pemilik homestay (kalo jalan sendiri tanpa ambil paket tour), tapi harus puas dengan rasa masakannya so2 aja. Tapi kalo mau repot sedikit bisa diatur untuk makan siang dan malam hari-1 bawa masakan dari rumah, untuk makan keesokan harinya bisa bawa lauk seperti abon, kering teri kacang, atau rendang udagemb*l misalnya. Nasi bisa beli, atau bawa ricecooker mini beserta berasnya πŸ˜€
  • Β Hapalkan no RT/RW homestay kita, atau cari ciri khas sekitar penginapan, untuk menghindari tersesat
  • Pakailah pakaian yang sopan dan senyaman mungkin selama di kapal. Bagi abg2 dan wanita2, sebaiknya tidak pakai hot pants yaaa… pakainya kalo udah di pantai aja.
  • Bawa p3k seperti antimo, plester dan betadine, minyak telon or kayu putih.
  • Sebaiknya menghindari main ke pulau saat musim hujan. Kita beruntung karena kemarin cuaca dan ombak bersahabat jadi perjalanannya gak bikin kapok.

Segitu aja deh tips ala2nya.

Jadi, bagi yang ingin liburan menikmati pantai bersih, air laut biru dan kehijauan, menghirup angin laut, mengecap air asin, yukkk ke kepulauan seribu, di DKI Jakarta loh… :D. Naik kapal ferry / kapal kayu tidak semenakutkan yang dikira kok, tapi kalo ada budget lebih, dan hanya keluarga kecil, tentu lebih menyenangkan naik speedboat dari Marina Ancol.

Cheers,

AL

 

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “(Akhirnya) Liburan ke Pulau Tidung

    1. sebenarnya gak juga sih mbak lis, tergantung selera masing2 orang. Tertawa gak pa2 kok mbak Lis, wong aku aja ngakak #KetawainDiriSendiri. Mesti diniatkan lagi nih diet dan workoutnya, biar gak malu2in hihihi

      Like

  1. cantik kok kak ternyata..

    jadi inget waktu aku jalan ke phuket ketemu sama anak jakarta yang bilang.. ini phukuet ternyata lebih bagusan pulau seribu berkali lipat deh.. hahahaha.. lah aku belum pernah ke pulau seribu >.<

    Like

    1. Iya Niee… beruntung pas bersih kemarin, karena banyak yang bilang Tidung udah kotor. Homestay dan makan aja sih yang kurang asik. Gak bisa bandingin sm phuket nih, krn belum pernah hiks πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s